Kuliah di
luar negeri memang pilihan saya sendiri. Semua ini nekat saya lakukan karena saya sudah muak
dengan hal-hal yang tidak normal tapi menurut beberapa orang Indonesia dijadikan
normal. Ah nanti akan saya bahas di tulisan berikutnya. Tinggal sendiri pasti
memberikan tantanngan tersendiri. Dari semua itu saya rangkum menjadi tiga poin.
PERTAMA,
persis seperti salah satu lagu dangdut yang terkenal. Begini nih salah
satu liriknya. Masak, masak sendiri, makan, makan sendiri, cuci baju sendiri, terusannya ga tahu gimana lagi. Jujur saya suka makan, makan apapun. Erm ga semua juga sih, karena saya punya alergi sama seafood dan beberapa hal lainnya.
Masak hukumnya wajib untuk mahasiswa Indo yang kuliah di luar negeri kantong tanggung
seperti saya. Apalagi saya bukan anak beasiswa, lagi nyari sih, tapi belum nemu yang cocok. Bayangkan sekali makan diluar keluar duit minimal 3-5 Euro. Duh! Buat gue
itu udah banyak, apalagi kalau dibeliin bahan makanan seperti sayuran atau
daging, bisa buat persediaan seminggu tuh. Kompor di Jerman juga ga enak
banget. Jadi disini orang-orang banyak memakai kompor induksi listrik, katanya
biar ramah lingkungan. Tapi sialnya waktu masak jadi lebih lama, karena
bayangkan untuk memasak air saja minimal butuh waktu 8-12 menit atau lebih, tergantung
banyak air dan watt kompor. Karena pakai kompor induksi, itu
berarti semua peralatan masak seperti wajan, panci, dan teman-temannya harus
punya pantat flat. Ah sial masak nasi goreng di wajan flat itu ga enak
banget.
KEDUA,
urus semua dokumen lu sendiri. Ya! Sendiri! Semua! Kalau di Indo anak kuliah ya
tinggal kuliah. Disini lu harus urus dokumen-dokumen penting yang menyangkut
nyawa sendirian. Salah satu domumen yang saya paling benci untuk mengurus adalah visa
pelajar atau mahasiswa. Lu harus bikin janji sama pihak terkait, siapkan semua
dokumen yang tak jarang juga bermasalah, cari waktu, siapkan mental, dan yang
terpenting berdoalah semoga tidak disuruh kembali lagi dan membawa dokumen yang kurang. Belum
lagi karena semua dokumen kita dalam bahasa Indonesia, itu berarti kita butuh
penterjemah dan menerjemahkan dokumen itu ribet, butuh duit banyak lagi. Makanya salah satu alsan mahasiswa asing tinggal disuatu kota adalah bagaimana Ausländerbehörde (kantor Imigrasi orang asing) mengeluarkan visa untuk orang asing.
KETIGA,
cari tempat tinggal bukan ditawari. Di Indonesia kita tinggal cari kamar kos kosong,
ketemu ibu kos bilang mau kontrak, bayar, dan selesai. Di Jerman lo harus cari semua
itu sendiri dan rebutan dengan orang lain dai seluruh dunia. Yup! Saingan kamu semua orang dari seluruh dunia. Paling menyebalkan
itu kalau sudah ngomong iya, tapi si penyewa pilih orang lain. Duh sakitnya tuh
disini (nunjuk dada). Kalau kebetulan tinggal di kota kecil biasanya bisa
langsung dapat asrama, tapi kalau di kota besar mau tidak mau ya rebutan. Karena 90% pasti mahasiswa harus menunggu minimal satu semster untuk mendapat asrama.
Paling parah kemaren saya harus nunggu setahun untuk bisa dapet asrama di
Dortmund. Tinggal di asrama adalah salah satu cara untuk menghemat pengeluaran di Jerman. Karena perbedaan harganya lumayan jauh dan karena asrama di Jerman disubsidi, listrik dan air bisa kita pakai secara bebas. Ingat listrik dan air itu termasuk mahal di Jerman karena tidak disubsidi pemerintah. Bahkan temen yang tinggal bareng orang di rumah swasta cuma boleh mandi seminggu tiga kali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar