28 Oktober 2015

Susahnya Kuliah di Jerman

Hari ini saya ingin menulis artikel ini karena menurut saya sekarang adalah waktu yang paling tepat. Banyak orang yang beranggapan kuliah di Jerman itu mudah. Mudah itu relatf sih ya, tapi menurut saya yang lebih penting adalah persiapkan dirimu untuk yang yang tidak menyenangkan.  



Hari ini 28 Agustus adalah salah satu hari terberat saya. Dimulai dari kamar saya di Wismar. Berangkat pagi jam 05:25 naik kereta dari Wismar Bahnhof, kemudian dilanjutkan naik IC dari Bad Kleinen ke Hamburg HBf, dengan tujuan akhir Dortmund HBf. Dijadwalkan sampai Dortmund jam 10:30, saya punya waktu transit di Hamburg lumayan lama, jadi beli sarapan dulu deh. Lumayan enak dan murah. Langganan saya yaitu toko roti punya orang turki dibawah jalan. Murah dan pilihannya banyak.  



Sampai Dortmund saya langsung menuju Fachhochschule Dortmund, naik U46 dari HBf ke Saarlandstr. Sampai di area FH Dortmund masih harus mencari ruang sekretariat. Setelah muter-muter gedung A, akhirnya ketemu juga. Saat masuk saya disapa oleh seorang ibu-ibu cantik. Setelah menerangkan tujuan saya kesitu, eh ternyata saya baru sadar seharusnya saya datang ke International Office karena saya mahasiswa asing.  

Jalan lah saya ke International Office, dan antriannya panjang seperti lagi ngantri wc umum waktu mudik di pantura. Hahaha... Ntar saya ceritakan lagi pengalaman perdana dan tidak sengaja ikut arus mudik 2015. Setelah ambil nomor antrian masuklah saya ke ruang 007A. Kali ini saya disapa oleh mbak-mbak cantik. Setelah menjelaskan maksud tujuan saya, dia mengambil dokumen saya. Rasanya runtuh kepedean saya saat dia memberi tahu bahwa ternyata dokumen saya kurang lengkap. Saya pun langsung gerak cepet mempertanyakan kesalahannya. Setelah sadar saya membuat kesalahan langsunglah saya mencari ide untuk bisa menyerahkan sisa persyaratan daftar ulang di bulan september. Masih beruntung , saya mendapat keringanan menyerahkan sisa dokumen paling akhir 23 september, tapi saya menyanggupi bahwa 11 september saya bisa membereskannya. Lega rasanya mendengar jawaban itu.  

Tidak mau buang waktu lagi, saya langsung telepon teman yang sedang berada di Wismar untuk membantu menyiapkan sisa dokumen. Saya terus teleponan sama dia sampai pada akhirnya sial. Saya terkunci di kereta bawah tanah. 
Yup bener banget, Cuma gara-gara telat melangkahkan kaki yang terasa berat karena ga siknron dengan otak yang sedang teleponan. Mau tidak mau saya harus ikut kereta dan turun di stasiun selanjutnya. Dan betapa kagetnya saat melihat sekitar, tiada sesiapa. Saya terjebak sendirian di terowongan bawah tanah. Langsung deh ketakutan, karena ternyata tadi itu adalah stasiun pemberhentian terakhir.  Dari ruang masinis keluarlah masinisnya yang ternyata ibu-ibu. Masinis seksi itupun bilang, "telat keluar ya?". Sial, ya iyalah gitu juga pake ditanya. Setelah itu dia bilang kalau lain kali ketutup pintu bisa pencet telepon darurat, jadi bisa berbicara lansung dengan masinis. Akhirnya saya menunggu selama 5 menit sampai kereta kembali jalan lagi ke arah yang berlawanan. Seru juga sih, berasa di film-film Holywood.

Jam 13:30 ada janji lihat rumah (cari tempat tinggal). Tidak mau terlambat, saya langsung naik kereta dan sampai 15 menit lebih cepat. Dengan bantuang Google Maps saya bisa temukan rumah itu dengan cepat, ternyata sangat dekat dengan stasiun. Sayapun masuk dan disapa oleh Ayah dari pemilik kamar itu. Orang tuanya pun memperlihatkan seisi kamar dan menjelaskan satu persatu. Tak pikir panjang saya langsung mengiyakan untuk mengambil kamar itu. Tapi sayangnya mereka masih menunggu ada dua calon penyewa berikutnya. Yah badan langsung cemas rasanya mendengar itu. Ah terserah, malas juga berharap kosong, langsung saja menata hati kalau ditolak. Bah, berasa lagi nembak cewek aja.  

Selama sejam jalan-jalan di pusat kota Dortmund sambil menikmati keindahan kota baru itu. Saya bilang kota baru karena memang tidak banyak bangunan tua yang bisa dinikmati, kebanyakan gedun-gedung adalah bangunan yang telah direstorasi atau benar-benar bangunan modern. Jam menunjukkan pukul 15:00 itu artinya saya harus segera ke stasiun besar untuk naik kereta menuju stasiun Barop (stasiun dekat rumah itu). Maklum kereta itu hanya berjalan setiap 30 menit seklai jadi harus agak sabar sih, sebenarnya da pilihan naik bus dan kereta Ubahn atau kereta bawah tanah, tapi males jalan. Hahaha... Indo banget kan. Jalan satu stasiun terpampang nama Barop, langsung saya turun dan betapa kagetnya saya mendapat sms pesan suara dari Vodafone, hati langsung dag-dig-dug. Benar saja ternyata pesan suara itu dari bapak penyewa kamar. Lemas langsung badan ini rasanya. Mencari kursi untuk duduk dan sejenak berusaha menenangkan diri. Payah kepanikan pun semakin saya rasakan. Gimana tidak, dalam waktu tiga hari kamu harus menemukan rumah baru dan membereskan semua barang yang ada di kamar lama.  

Otak semakin kacau, pikiran semakin ga jelas. Akhirnya memutuskan untuk pulang ke Wismar dan merenung. Begitulah salahsatu hari sial yang pernah saya alami. Memang terasa berat, tapi setelah direnungkan tidak ada masalah yang Tuhan berikan yang berat untuk umatnya. Semua itu pasti ada masa dimana kita merasa susah dan senang.    

2 komentar: