Hari
ini saya ingin menulis artikel ini karena menurut saya sekarang adalah
waktu yang paling tepat. Banyak orang yang beranggapan kuliah di Jerman
itu mudah. Mudah itu relatf sih ya, tapi menurut saya yang lebih penting
adalah persiapkan dirimu untuk yang yang tidak menyenangkan.
Hari
ini 28 Agustus adalah salah satu hari terberat saya. Dimulai dari kamar
saya di Wismar. Berangkat pagi jam 05:25 naik kereta dari Wismar
Bahnhof, kemudian dilanjutkan naik IC dari Bad Kleinen ke Hamburg HBf,
dengan tujuan akhir Dortmund HBf. Dijadwalkan sampai Dortmund jam 10:30,
saya punya waktu transit di Hamburg lumayan lama, jadi beli sarapan
dulu deh. Lumayan enak dan murah. Langganan saya yaitu toko roti punya
orang turki dibawah jalan. Murah dan pilihannya banyak.
Sampai
Dortmund saya langsung menuju Fachhochschule Dortmund, naik U46 dari
HBf ke Saarlandstr. Sampai di area FH Dortmund masih harus mencari ruang
sekretariat. Setelah muter-muter gedung A, akhirnya ketemu juga. Saat
masuk saya disapa oleh seorang ibu-ibu cantik. Setelah menerangkan
tujuan saya kesitu, eh ternyata saya baru sadar seharusnya saya datang
ke International Office karena saya mahasiswa asing.
Jalan
lah saya ke International Office, dan antriannya panjang seperti lagi
ngantri wc umum waktu mudik di pantura. Hahaha... Ntar saya ceritakan
lagi pengalaman perdana dan tidak sengaja ikut arus mudik 2015. Setelah ambil nomor antrian
masuklah saya ke ruang 007A. Kali ini saya disapa oleh mbak-mbak cantik.
Setelah menjelaskan maksud tujuan saya, dia mengambil dokumen saya.
Rasanya runtuh kepedean saya saat dia memberi tahu bahwa ternyata
dokumen saya kurang lengkap. Saya pun langsung gerak cepet
mempertanyakan kesalahannya. Setelah sadar saya membuat kesalahan
langsunglah saya mencari ide untuk bisa menyerahkan sisa persyaratan
daftar ulang di bulan september. Masih beruntung , saya mendapat
keringanan menyerahkan sisa dokumen paling akhir 23 september, tapi saya
menyanggupi bahwa 11 september saya bisa membereskannya. Lega rasanya
mendengar jawaban itu.
Tidak
mau buang waktu lagi, saya langsung telepon teman yang sedang berada di
Wismar untuk membantu menyiapkan sisa dokumen. Saya terus teleponan
sama dia sampai pada akhirnya sial. Saya terkunci di kereta bawah tanah.
Yup bener banget, Cuma gara-gara telat melangkahkan kaki yang terasa
berat karena ga siknron dengan otak yang sedang teleponan. Mau tidak mau
saya harus ikut kereta dan turun di stasiun selanjutnya. Dan betapa
kagetnya saat melihat sekitar, tiada sesiapa. Saya terjebak sendirian di
terowongan bawah tanah. Langsung deh ketakutan, karena ternyata tadi
itu adalah stasiun pemberhentian terakhir. Dari ruang masinis keluarlah
masinisnya yang ternyata ibu-ibu. Masinis seksi itupun bilang, "telat keluar
ya?". Sial, ya iyalah gitu juga pake ditanya. Setelah itu dia bilang
kalau lain kali ketutup pintu bisa pencet telepon darurat, jadi bisa
berbicara lansung dengan masinis. Akhirnya saya menunggu selama 5 menit
sampai kereta kembali jalan lagi ke arah yang berlawanan. Seru juga sih, berasa di film-film Holywood.
Jam
13:30 ada janji lihat rumah (cari tempat tinggal). Tidak mau terlambat, saya langsung naik
kereta dan sampai 15 menit lebih cepat. Dengan bantuang Google Maps saya
bisa temukan rumah itu dengan cepat, ternyata sangat dekat dengan
stasiun. Sayapun masuk dan disapa oleh Ayah dari pemilik kamar itu.
Orang tuanya pun memperlihatkan seisi kamar dan menjelaskan satu
persatu. Tak pikir panjang saya langsung mengiyakan untuk mengambil
kamar itu. Tapi sayangnya mereka masih menunggu ada dua calon penyewa
berikutnya. Yah badan langsung cemas rasanya mendengar itu. Ah terserah,
malas juga berharap kosong, langsung saja menata hati kalau ditolak.
Bah, berasa lagi nembak cewek aja.
Selama
sejam jalan-jalan di pusat kota Dortmund sambil menikmati keindahan
kota baru itu. Saya bilang kota baru karena memang tidak banyak bangunan
tua yang bisa dinikmati, kebanyakan gedun-gedung adalah bangunan yang
telah direstorasi atau benar-benar bangunan modern. Jam menunjukkan
pukul 15:00 itu artinya saya harus segera ke stasiun besar untuk naik
kereta menuju stasiun Barop (stasiun dekat rumah itu). Maklum kereta itu
hanya berjalan setiap 30 menit seklai jadi harus agak sabar sih,
sebenarnya da pilihan naik bus dan kereta Ubahn atau kereta bawah tanah,
tapi males jalan. Hahaha... Indo banget kan. Jalan satu stasiun
terpampang nama Barop, langsung saya turun dan betapa kagetnya saya
mendapat sms pesan suara dari Vodafone, hati langsung dag-dig-dug. Benar
saja ternyata pesan suara itu dari bapak penyewa kamar. Lemas langsung
badan ini rasanya. Mencari kursi untuk duduk dan sejenak berusaha
menenangkan diri. Payah kepanikan pun semakin saya rasakan. Gimana tidak,
dalam waktu tiga hari kamu harus menemukan rumah baru dan membereskan
semua barang yang ada di kamar lama.
Otak
semakin kacau, pikiran semakin ga jelas. Akhirnya memutuskan untuk
pulang ke Wismar dan merenung. Begitulah salahsatu hari sial yang pernah
saya alami. Memang terasa berat, tapi setelah direnungkan tidak ada
masalah yang Tuhan berikan yang berat untuk umatnya. Semua itu pasti ada
masa dimana kita merasa susah dan senang.


Kak mau tanya berapa dorm per bulanya di wismar ya
BalasHapusKak mau tanya berapa dorm per bulanya di wismar ya
BalasHapus