04 Juni 2015

Berpikir Lebih Terbuka

Tulisan kali ini akan membahas sesuatu yang sedikit serius, tapi saya berusaha untuk menulis dengan menggunakan gaya bahasa yang santai. Tindakan ini adalah sesuatu yang sangat banyak berpengaruh terhadap apa yang akan kita ucapkan. Karena pada dasarnya semua orang mempunyai kemampuan untuk memperkirakan sesuatu atau bahasa kerennya meramalkan sesuatu. Menurut kamus besar bahasa Indonesia (KBBI), berpikir adalah menggunakan akal budi untuk mempertimbangkan dan memutuskan sesuatu. 


Orang Indonesia menurutsaya bisa dikategorikan kedalam populasi yang senang berpikir. Ya, berpikir dalam segala hal. Lihat saja sekarang sudah mulai banyak penemu-penemu dari Indonesia yang mempengaruhi dunia. Contohnya yang tidak banyak pribumi kita sendiri tidak tahu tetapi menggunakannya, Khoirul Anwar seorang penemu jaringan 4G yang selama ini kita gunakan dan dunia manafaatkan untuk berkomunikasi dengan cepat. 4G itu adalah hasil buah pemikiran dari manusia yang sebelumnya tidak pernah umumkan. 

Orang Indonesia suka berpolitik, katanya. Ah, pendapat saya pribadi hal itu tidak sepenuhnya benar. Karena pada dasarnya setiap negara pasti mempunyai politiknya masing-masing, dan disitulah muncul banyak orang yang ingin terjun dengan berbagai tujuan, ada yang bertujuan memperkaya diri, alasan kemanusiaan, dll. Tapi emang sih, politik kita sangat menarik bahkan jika dibandingkan dengan negara demokrasi manapun di dunia ini. 



Tidak perlu sebenarnya memaksaan diri atau orang lain untuk menyelaraskan pemikiran. Karena disitulah letak keindahaan dalam berpikir. Coba anda ingat bagaimana peneliti jaman dahulu memperdebatkan bentuk permukaan bumi ini, ada yang bilang kotak, lingkaran, dan bulat. Mereka semua memperkiraan jawaban itu dengan segala kemampuan yang mereka pernah miliki. Kemampuan yang mereka dapat itupun sangat beragam berdasarkan pendidikan, lingkungan, gaya hidup, dll. Pada saat mereka menyatakan buah pemikiran itu mereka dalam posisi yang benar sepenuhnya, hingga pada saatnya seseorang menyangkal pemikiran itu. 

Cara orang berpikir juga sangat bergantung dengan lingkungan dimana dia hidup. Contoh nyatanya ketika saya tinggal di Indonesia orang berpikir kalau membuang ingus di tempat umum itu menjijikan. Namun, ketika saya tinggal di Jerman. Mereka justru berpikir kalau jika memang flu sebaiknya dengan segera mengeluarkan ingus itu dimanapun kamu berada. Iya memang sampai sekarang saya juga masih merasa risih dengan hal itu. Saat naik kereta tiba-tiba ada orang didepan saya membuat suara keras khas orang membuang ingusnya. 

Ah, tapi memang kita membutuhkan keanekaragaman pemikiran. Tidak bisa membayangkan apa jadinya bumi ini jika semua orang berpikir sama, pasti kita akan mati kebosanan. Dalam perbedaan ini yang lebih penting bagaimana kita bisa menerima buah pemikiran orang lain. Ingat! Menerima bukan berarti menggunakan, simpel saja. Jika anda mendapat hadiah apel dari orang tua, padahalkita tidak suka apel. Tapi pada suatu ketika ternyata teman kita datang dan dengan senang makan apel itu. Intinya apel itu memang tidak berguna untuk kita, tapi daripada menolak apel itu lebih baik menerimanya. Kemudian pasti ada orang yang membutuhkan apel itu. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar